Template by:
Free Blog Templates

Selasa, 31 Januari 2012

Ilmuwan Pastikan Uang Memang Bisa Membeli Kebahagiaan

Ada anggapan, uang tak bisa membeli kebahagiaan. Namun kini, para ilmuwan memastikan, uang memang bisa membuat manusia bahagia. Mengapa?

Menurut hasil laporan terbaru, uang yang banyak merupakan faktor terpenting dalam kebahagiaan seseorang. Temuan Institute of Economic Affairs menunjukkan, tingkat kebahagiaan berkorelasi dengan jumlah kekayaan seseorang yang terakumulasi.

Hal ini jelas berlawanan dengan kepercayaan populer yang banyak orang ketahui. Laporan yang dibuat oleh selusin akademisi dari seluruh dunia ini mematahkan kebahagiaan bisa dicapai dengan tujuan lain.

Misalnya seperti kasus di Inggris. Perdana Menteri (PM) David Cameron mempromosikan

kebahagiaan diganti dengan tujuan lain. Menurut laporan tersebut, PM ini bisa bekerja lebih maksimal untuk membuat warganya merasa lebih baik dengan meningkatkan perekonomian Inggris.

Direktur Editorial IEA Philip Booth mengatakan, pmerintah menghabiskan uang untuk pengumpulan statistik kebahagiaan dalam rangka mempromosikan kebijakan pemerintah untuk mencoba meningkatkan kebahagiaan nasional. “Ini merupakan kebijakan yang cacat dan berdasarkan kesalahpahaman yang lengkap.”

Laporan ini dibuat setelah melihat rangkaian data dari 126 negara. Temuan paling kontroversial dari laporan ini bertentangan dengan keyakinan luas di mana di atas tingkat pendapatan tertentu, orang tak akan menjadi lebih bahagia.

Teori sebelumnya yang diungkap pada 1974 oleh ahli kesejahteraan Richard Easterlin mengklaim, kebahagiaan akan mandeg ketika pendapatan meningkat melebihi tingkat tertentu.

Dua tahun lalu, hasil studi Princeton University menemukan, kesejahteraan berhenti meningkat di titik GBP58,7 ribu (Rp817 miliar). Namun, laporan ‘The Pursuit of Happiness’ ini mengutuk teori-teori tersebut dan menyatakan teori tersebut sebagai ‘mitos’ dan ‘palsu’.

Laporan terbaru ini berpendapat, kenaikan pendapatan sebesar 20% berdampak sama pada kesejahteraan terlepas dari seberapa banyak kekayaan yang dimiliki orang tersebut pada awalnya.

Laporan ini menyatakan, “Tak ada negara yang cukup kaya dan menyentuh titik kekenyangan, jika titik itu memang ada. Temuan ini kuat dan menggunakan satu set data yang sangat kaya. Individu yang lebih kaya lebih bahagia dengan kehidupannya.”

Laporan yang sesuai dengan 140 negara yang diteliti ini memastikan ‘hubungan antara pendapatan dan kepuasan sangatlah mirip’. Pada studi percontohan, ditemukan, tingkat kepuasan hidup dari tiga-perempat orang mencapai nilai tujuh dengan nilai maksimal 10.

Konsep pengukuran kebahagiaan ini pertama kali dicoba di kerajaan Himalaya Bhutan 40 tahun lalu oleh raja Jigme Singye Wangchuck yang mengatakan kemajuan harus diukur dari Kebahagiaan Nasional Bruto.

Dalam empat dekade terakhir, ide-ide serupa dipertimbangkan pemerintah di seluruh dunia dan Negara-negara itu mulai menerapkan kebijakan yang bertujuan mempromosikan kesejahteraan dibanding pendapatan.
Read More...