Template by:
Free Blog Templates

Senin, 24 Desember 2012

Sebuah opini tentang Menyontek

Assalamualaikum bloggers, apa kabar? 

setelah sekian lama akhirnya punya waktu lagi untuk ngepost (selalu begini) hehehe... Ternyata untuk bisa konsisten dalam ngeblog bukan hal yang mudah. apalagi sekarang saya sudah tidak bisa 24 jam berhadapan dengan komputer dan sejenisnya, hehehe...

 oh iya, sekarang saya lagi dalam masa Ujian Tengah Semester(MID) di perguruan tinggi. seperti biasa, beberapa hari harus lebih akrab dengan diktat kuliah atau tugas-tugas pendamping pelengkap MID. melelahkan tapi menyenangkan. mungkin karena saya suka belajar :) 

Bicara tentang Ujian, kita semua tahu, momok ujian di negara kita tercinta ini. Ujian selalu jadi ajang uji kecerdasan. baik itu kecerdasan sesungguhnya mengenai pengetahuan atau satu lagi jenis kecerdasan yang sebenarnya sedikit banyak bisa dibilang menyimpang. apa itu? kecerdasan "cheating" atau menyontek. ^_^ 

sejak saya masih duduk di bangku SD sampai sekarang sudah jadi mahasiswa semester 3, rasanya saya belum pernah menemukan sebuah ujian yang memang "fair". yang benar-benar mengenai menguji kemampuan dan pengetahuan. salah siapa? salah siswa yang punya skill menyontekkah? salah siswa yang lain kah? atau coba kita tengok sisi lain, salah pengawas ujian yang "memanjakan"kah? mari kita bahas... 

Menyontek... hmm, bukan kata baru yah? tentu saja, dari siswa paling kecil yang masih di kelas nol besar sampai seorang prof sekalipun pasti kenal dengan kata ini. dan bohong kalau ada yang tak pernah melakukannya(saya juga pernah) hehehe... apa alasan pelajar menyontek? jawabannya simple. karena TIDAK BERUSAHA BELAJAR. apa hanya itu? ada juga yang beralasan, sudah belajar tapi tetap saja tidak bisa. ah masa sih? :) 

TIDAK BERUSAHA BELAJAR. aduuh, kenapa tidak berusaha belajar? bukankah tugas seorang pelajar memang belajar? lantas, mengapa tidak belajar? ada yang bilang, "ah, belajar itu gak penting, selagi masih muda mending nikmatin hidup", atau "udah belajar kok, tapi tetep aja gak ngerti", atau yang paling klasik "gak suka pelajarannya"...

saya kurang setuju dengan hal ini. bukannya mau muna atau sok alim, tapi rasanya nurani menentang aja dengan budaya yang satu ini. saya juga gak bisa bilang saya gak pernah nyontek, tapi setidaknya untuk beberapa tahun ini saya masih bertahan dengan kejujuran yang saya junjung tinggi sejak kecil (hasil didikan sekolah militer hiihihih)

Saya pernah menyontek. itu saya lakukan karena saya merasa tidak percaya diri dengan kemampuan saya. saya fikir, kalau saya tidak menyontek, saya pasti akan kalah dalam masalah nilai,dibandingkan dengan mereka yang punya "skill" menyontek. tentu saya akan merasa sebal bila kenyataannya seperti itu. tidak adil bukan? itu fikiran saya dulu.

saya mencoba menyontek. tetapi ternyata saya terlalu bodoh untuk bisa menyontek di saat ujian, saya grogi-an hehehe... dan rasanya seperti menipu diri sendiri... tidak, bukan hanya diri sendiri tetapi juga menipu kepercayaan orang tua. orang tua yang menginvestasikan 70% penghasilannya untuk pendidikan anaknya. apa pantas saya hanya ke sekolah untuk bisa hebat dalam menyontek? tentu TIDAK SAMA SEKALI...

itu yang jadi pertentangan dalam kepala saya saat itu. betapa susahnya orang tua banting tulang, siang dan malam hanya demi mengumpulkan biaya untuk pendidikan kita, tetapi apa yang kita lakukan? datang ke sekolah hanya sebagai formalitas, duduk mendengarkan ceramah pelajaran sebagai suatu kewajiaban, membicarakan hal yang tidak penting jadi suatu keharusan, lalu mengasah skill menipu dalam ujian? itukah? 

kalau iya, coba bayangkan betapa sia-sianya pengorbanan mereka...

 saya mungkin sedikit lebih kritis tentang hal ini. mengingat betapa sulitnya untuk terus sekolah. bukan hanya karena biaya yang begitu mahal tetapi juga karena tidak ada dukungan dari orang tua. apalagi kalau teringat betapa susahnya perjuangan untuk bisa kuliah setahun yang lalu, rasanya betapa buruk jika yang bisa kulakukan hanya menyontek dan membawa pulang nol besar setiap hari tanpa pengetahuan sedikitpun...

kembali ke alasan awal, tidak berusaha belajar. kenapa? pelajarannya susah? toh yang buat pelajarannya kan manusia, kita apa? manusia juga kan? jadi? hanya perkara mereka lahir lebih dulu makanya tau lebih dulu. benar kan? :) atau mau bilang sibuk? sibuk ngapain sih? saya bahkan hanya punya satu atau dua jam perhari untuk konsentrasi belajar di luar sekolah/kampus. pulang ke rumah bantuin orang tua cari uang, giliran waktu luang ya di pakai buat istirahat, belum kalau ada tugas, tapi saya masih sempat untuk belajar. masih sanggup untuk bertahan tidak menyontek dalam ujian. 

kenapa coba? kalian mau bilang "ah kau sih memang cerdas?", tapi bukankah kita sama-sama makan nasi? kalua saya cerdas berarti kalian juga cerdas kan? hanya saja saya mau belajar lebih banyak...

tapi saya juga tidak bisa menyalahkan para pengguna media menyontek. bukan sepenuhnya salah kita kok... hehe *pembelaan* budaya ini juga lahir dari pengajar yang tidak realistis dalam membuat soal ujian. yang diajarin A yang ditanyain B, sumpek gak tuh? hehehe atau ketentuan penentuan kelulusan melalui ujian... gimana ceritanya masa belajar berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun dihabisin sama ujian beberapa menit? emang otak kita papan tulis berjalan yang mau bawa-bawa tulisan pelajaran segitu lama? ya gitu deh heheheh...

atau mungkin ada yang merasakan ketakutan seperti yang dulu sering saya rasakan,takut kalau kita yang jujur kalah dalam kuantitas dengan yang menyontek? yah kadang-kadang sih... tapi disatu sisi sebenarnya kita mendapatkan dua hal sekaligus, paket kejujuran dan pengetahuan yang orang lain tidak punya salah satu atau bahkan keduanya. penting ya? mungkin awalnya terasa gak penting, tapi lama kelamaan kita akan tau betapa pentingnya kedua hal itu. tenanglah, TUHAN TAK PERNAH TIDUR. Tuhan akan lebih menghargai hambaNYA yang jujur. percaya deh :)

jadi? ayolah teman, berhenti dari budaya menyontek. tidak ada yang tidak mungkin selama kita mau berusaha. selalu ada hikmah untuk orang yang berusaha. apalagi berusaha belajar. kasian orang tua sudah susah-susah cari uang tapi yang kita dapatkan hanya skill menipu... 


"Kejarlah mimpimu walau sampai ke langit, kalaupun meleset, setidaknya kau sudah ada di tempat yang tinggi"
"mungkin hidup mencetak banyak orang cerdas, lumayan banyak orang jujur, dan hanya segelintir yang punya keduanya"

 wassalam, ^_^

2 komentar:

Maunk mengatakan...

wihh, calon-calon penulis buku kekx ini...

Prince of Mocca Cullen mengatakan...

hehe kakak maunk bisa saja, *amin deh* ^^

Poskan Komentar